Hidup Setengah Waras
Desember yang lalu, saya mendapat kabar baik.
Psikiater saya bilang, "Saya nggak kasih resep lagi ya, sudah minum obatnya," katanya sambil sepasang matanya meyakinkan saya, "Kamu sudah bisa tanpa mereka." Mendengar itu saya mengangguk antusias. Dokter mungkin tidak tahu betapa perkataan itu membuat saya terharu dan menangis dalam hati. Klise, tapi memang begitu adanya.
Kenangan dan jalan hidup saya belakangan lantas muncul di ruangan itu, menjadi kilas balik yang perlu saya hargai. Sebab saya tahu bagaimana sulitnya hidup setengah waras. Sampai saat ini.
Hidup setengah waras adalah menjadi bagian dari manusia-manusia seperti saya yang sadar betul bahwa dirinya tak waras dan harus hidup dalam kehidupan yang ideal. Barangkali disebutnya standar kehidupan. Jadinya, minoritas seperti saya dinilai egois, antagonis, dan definisi lain-lain dengan konotasi negatif.
Dulu, jelas saya akan sedih mendengar asumsi mereka yang semacam itu. Protes habis-habisan di pikiran sendiri. Kenapa saya harus berjuang menjadi bagian dari mereka? Tidak bisakah mereka yang memahami keadaan saya?
Akhirnya, selalu. Selalu menyalahkan diri sendiri. Makanya pada bio-bio atau deskripsi yang saya tulis di media sosial selalu begini, "Mak, aku tidak ingin menjadi manusia yang waras." Tahu kenapa? Karena kalau saya tidak waras seutuhnya, bagian-bagian sedih tadi akan hilang. Bagian-bagian tentang ambisi untuk hidup ideal akan hilang juga.
Oh, jadi orang gila ternyata tidak buruk juga.
Malah sepertinya menyenangkan. Suatu saat saya harus coba jadi orang gila. Saya jadi ingat cerita pendek yang pernah saya tulis. Judulnya, Srilanggas. Sosok tokoh yang saya buat untuk memberi kehidupan bagi diri saya sendiri. Ceritanya persis seperti ini. Lha wong kisah saya sendiri, hehe. Tentang manusia setengah waras yang ingin menjadi tidak waras sepenuhnya.
Sejak saat itu, Srilanggas adalah bagian dari diri saya. Ia lahir untuk membuat saya waras dalam diri saya yang tidak waras. Salam kenal semuanya. Saya lahir tidak untuk bersedih atas hal-hal yang bukan kesalahan saya. Saya lahir tidak untuk menanggung kemauan dan ekspektasi orang lain. Saya hidup sepenuhnya untuk Tuhan dan diri saya sendiri.