Tangisan Akhir Januari

Woah, hari ini saya banyak menangis.

Gara-garanya sederhana, pagi-pagi sekali saat saya mencoba menyelesaikan masakan untuk berdagang, saya keluar sebentar dari dapur, sok ngide menyambut matahari. Sudah cerah semenjak petang subuh tadi. Sejujurnya saya memang suka melihat langit, saya selalu merasa kecil tiap melihat langit. Karenanya, membuat saya sadar kalau saya bukan sesuatu yang perlu dianggap lebih.

Kecil sekali. Bukan apa-apa. Jadi hidup santai aja, karena saya bukan pusat alam semesta. Melihat langit itu seperti menyadarkan saya untuk beralih sebentar dari kelelahan duniawi. Wkwk, begitulah intinya.

Nah, setelah melihat langit yang luas juga cerah hari itu, jiwa melankolis saya keluar dong. Saya memutar lagu BCL - Harta Berharga, sambil kembali masuk dapur menguleni adonan martabak.

Saya suka mendengarkan musik dan ikut menyanyi. Jadilah saya menyanyi bersama suara Kak Unge, kadang-kadang menyahuti dengan nada yang saya usahakan pecah suara. Biar tambah bagus, bagus untuk saya pribadi.

Barangkali ada yang belum tahu lagunya, begini saya cantumkan sedikit liriknya. Untuk yang sudah hafal, siapa tahu kalimatnya bernada.

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

Selamat pagi, Emak

Selamat pagi, Abah

Mentari hari ini

Berseri indah

Nah pas di bagian lirik selanjutnya,

Terimakasih, Emak

Habislah saya, tumpah air mata yang tidak tahu sembunyi di mana. Sambil memasukkan adonan ke kulit pangsit saya nyanyi dengan suara sumbang. Campur mewek, capek, jelek. Haduh berantakan. Pagi itu dimulai dengan sedu.

Kebetulan ketika saya memutar dan menyanyikan lagu itu, Emak saya keluar rumah. Ia mendapat pekerjaan memandikan bayi. Jadi rutinitasnya tiap pagi dan sore pergi ke rumah si bayi. Jadi tidak ada yang tahu saya menangis keras pagi-pagi di dapur. Bapak sudah berangkat kerja, Kakak masih tidur.

Hari itu saya tidak menstruasi, tapi rasanya jauh lebih sensitif dari biasanya. Mungkin karena saya sayang Mak saya, sayang keluarga saya. Jadi tangisan itu karena rasa syukur saya terhadap apa yang saya miliki saat ini. Saya berharap sesakit apa pun nanti saya jatuh, saya masih memiliki mereka.

Apalagi malamnya saya sedang rewatch drakor "Hospital Playlits" season dua. Drama yang di tiap menitnya saya menangis. Ya, pada dasarnya saya memang cengeng.

"Hospital Playlits" itu rasanya dunia baik yang jauh dari apa yang saya rasakan. Saya orang yang mudah meremehkan hidup dan kehidupan. Saya amat sangat jarang menghargai nyawa saya sendiri.

Dulu, saat kakak saya sakit di negara orang dan keluarga saya berduka berkepanjangan, saya selalu berdoa untuk tukar saja rasa sakitnya pada saya. Saya menghargai kehidupan orang di sekitar saya. Saya percaya waktu itu kalau saya yang pergi, keluarga saya tidak akan merasa sesakit jika harus kehilangan kakak.

Sepesimis itu saya terhadap harga nyawa diri sendiri.

Di drama itu saya banyak menangis, karena banyak dari mereka yang berjuang dan bertahan untuk hidup. Kehidupan rumah sakit yang penuh dengan sedikit peluang hidup tapi besar akan harapan untuk bisa hidup.

Kembali lagi di dapur. Saya pikir setelah lagu itu habis diputar saya akan berhenti menangis. Ternyata hari itu saya merasa sangat sedih dan ingin terus menangis. Saat melihat Mak dan Bapak saya berani bilang, "Aku kok pingin nangis tok ya rasane." 

Saat saya menyendiri di ruang tamu, Kakak perempuan saya yang pergi belanja menelpon saya. Menanyakan alasan saya menangis, katanya berantem dengan pacar. Woh, pacar saja tidak punya. Selanjutnya, Emak mendatangi saya. Beliau pikir alasan saya menangis karena saya habis bertengkar dengan kakak perempuan saya. Ya, kami memang sering berdebat. Tapi bukan itu alasannya. Setelahnya, Kakak laki-laki saya yang datang, menanyakan juga masalahnya. Saya jujur saja, saya menangis karena lagu.

Kata Kakak, "Kalau nggak bisa cerita ke aku atau orang rumah. Ceritalah ke siapa pun, supaya lega dan jangan dipendam sendiri."

Lalu saya menangis lagi. Begitu terus, sambil beraktivitas dengan menangis, tidak semangat. Sampai saya bertanya pada Kakak perempuan sulung saya, "Mbak, rekomendasi obat buat semangat." Yang cuma dibalasnya dengan ketawa.

Sampai setelah saya tidur panjang dan bangun di sore hari. Saya pikir benar kata kakak saya, harus saya tumpahkan apa yang sedang ada di kepala saya. Beruntungnya saya ingat blog ini, sebagaimana tujuannya saya ingin mengekspresikan diri saya.

Hari ini saya menangis karena saya sangat mencintai keluarga saya. Mencintai mereka yang menerima saya dalam keadaan paling sinting. Dan paling tidak hari ini saya sadar bahwa hidup dan nyawa saya juga berharga. Meski saya bukan siapa-siapa, saya juga mahluk Tuhan yang sama berharganya dengan ciptaan-Nya yang lain.

Panjang umur saya, keluarga, dan kawan-kawan sekalian.

Popular posts from this blog

Cara Lain Menyebut Kesepian

Hidup Setengah Waras