Menjadi Mahasiswa Akhir
Skripsimu sudah sampai mana?
Jenis pertanyaan yang tidak bisa lepas dari menjadi mahasiswa akhir. Memiliki gelar mahasiswa akhir jauh lebih menyeramkan daripada menjadi mahasiswa baru. Rasanya sudah cukup, tidak perlu saya ceritakan derita-derita yang akan dan harus ditanggung oleh mahasiswa akhir, karena pada akhirnya setiap mahasiswa akan merasakannya sendiri-sendiri. Susahnya mau lulus dan kehidupan setelahnya. Hehe.
Tulisan ini adalah bukti pelarian kalau saya sedang enggan mengerjakan skripsi (lagi). Jelas saya tahu, setelah ini akan ada penyesalan berulang. Misalnya Februari lalu, harusnya saya melanjutkan mengerjakan revisi skripsi selama liburan. Nyatanya, malah luntang-lantung mengerjakan sesuatu yang lain. Usaha-usaha dagang, riwa-riwi ke rumah sakit, selesai itu menonton drama atau film.
Begitu terus, sampai dagangan jarang dibeli konsumen, akhirnya istirahat. Jeda berjualan. Berteman dengan ICU sambil menunggu update-an episode baru, drama baru, dan main sosial media. Tidak pernah melihat-lihat blog. Makanya bulan lalu sama sekali tidak ada tulisan. Ya karena malasnya sudah kelewatan (lagi).
Sepanjang jadi mahasiswa, satu yang saya sadar. Kehidupan akademik tidak cocok untuk saya. Lain halnya dengan salah satu teman saya yang amat mencintai sekolah.
Pagi yang cerah, akhir pekan di alun-alun kota, ia bercerita soal keinginannya yang besar untuk sekolah dan kesulitannya bersekolah. Sama dengan saya, keluarganya tidak memiliki financial yang baik, jadi sering memaksa anaknya untuk menyerah bersekolah.
Setiap ia lulus sekolah dan harus memasuki jenjang sekolah tingkat lanjut, ia akan mendapat masalah yang sama. Bahwa keluarganya tidak bisa mewujudkan harapan yang ia cintai itu. Di masa-masa itu ia akan mendapati dirinya banyak menangis. Saya mengerti, menjadi anak-anak dan remaja bagi beberapa orang jelas tidak mudah. Karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi keinginannya sendiri, sedang belum tentu keluarga kita mampu memenuhi apa yang diingin dan angankan kita.
Beruntungnya, teman saya keras kepala. Ia bertekad agar tetap bisa sekolah. Orang tua mana yang sampai hati saat anaknya putus asa dan mengancam akan bunuh diri jika ia terus-terusan dilarang bersekolah?
Saat bercerita, ia cukup dewasa dengan menyadari kalau sikapnya saat itu egois dan childish. Justru karena sikapnya yang begitu, akhirnya ia bisa sampai di titik menjadi mahasiswa akhir seperti sekarang ini.
Saya cuma diam mendengarnya bercerita. Kepala saya penuh dengan apa yang ingin saya katakan, tapi saya telan pelan-pelan. Karena saya terlalu takut berbicara.
Pikiran-pikiran saya sahut-sahutan, apa yang salah dengan bersikap childish? Bukankah waktu itu ia memang masih anak-anak? Apa sebagai anak-anak kita harus dipaksa bersikap dewasa melihat keadaan di sekeliling kita? Bagi saya, keras kepalanya yang satu itu pada akhirnya bisa membuat orang dewasa di sekitarnya berusaha jauh lebih keras.
Siapa yang bisa membantu anak-anak kalau bukan orang dewasa?
Tentang keinginannya untuk bunuh diri, bodohnya saya juga hanya diam. Padahal saya tahu bagaimana perasaan yang satu itu. Bukan main.
Sebenarnya, saat ia bercerita kisahnya yang satu itu. Saya tertegun, karena kisahnya mirip dengan kehidupan saya di masa lampau. Tentang orang tua yang tidak mampu memenuhi kebutuhan bersekolah anaknya. Permasalahan dan perdebatan berulang pada setiap waktu menjelang penerimaan peserta didik baru.
Bedanya, saya tidak begitu mencintai sekolah. Saya tidak punya ambisi untuk itu. Saat kedua orang tua saya membicarakan keputusan untuk saya agar berhenti sekolah, saya hanya bisa mengangguk paham, dan memikirkan jalan mana yang bisa saya tempuh.
Dari SD ke SMP, SMP ke SMA, saya juga tidak memiliki dukungan dari orang tua. Saya selalu berandai-andai ketika saya harus berhenti sekolah, apa yang bisa saya kerjakan. Bekerja di toko-toko seperti teman-teman kebanyakan yang saya lihat, menjadi penyanyi cilik di desa, dan lain hal yang menarik perhatian saya sejak kecil.
Beruntungnya waktu itu, saya punya kakak perempuan kedua dan suaminya. Merekalah yang berperan besar sampai saya akhirnya melanjutkan sekolah. Mereka yang mengisi ambisi saya dengan menjelaskan pentingnya menjadi perempuan berpendidikan. Mereka yang mengambil alih peran kedua orang tua saya. Mereka bertanggung jawab penuh dan berhenti melibatkan orang tua saya.
Dan berterima kasih terhadap waktu, orang tua saya melihat saya tumbuh menjadi anak yang pintar, membuat mereka mulai terbuka dengan pendidikan. Pelan-pelan, mereka menyanggupi membiayai saya bersekolah. Ikut iuran kepada kakak saya, hingga kembali mengambil penuh peranannya untuk menghidupi kebutuhan akademik saya.
Walaupun saat lulus SMA, mereka kembali goyah atas pilihan saya untuk melanjutkan berkuliah. Karena mereka paham bagaimana mahalnya kehidupan di universitas dari lingkungan sekitarnya yang kebanyakan hanya orang-orang kaya yang menguliahkan anaknya.
Kebetulan saat itu saya punya kesenangan dalam dunia kepenulisan, jadi keyakinan itu yang akhirnya menjadi kekuatan saya untuk membujuk mereka agar merestui saya pergi kuliah. Dengan janji akan mencari sumber dana pendidikan sendiri.
Sepertinya terlalu panjang ya? Saya pikir ceritanya cukup sampai situ. Tentang permasalahan yang sama dari dua sudut pandang manusia yang berbeda.
Kisah teman saya itu, hanya saja sekali lagi menyadarkan saya. Bahwa sejak kecil saya tidak begitu suka kehidupan akademik. Sekalipun saat ini saya menjalaninya, saya harus memukul kepala saya berulang-ulang. Sebentar lagi saya akan sampai, sebentar lagi saya akan keluar dari birokrasi panjang ini.
Makanya ayo dikerjakan skripsinya, biar cepet lulus dan pergi dari kampus! fiuhh (emotikon nangis).
Salam derita sesama mahasiswa akhir :(: Semoga selesai skripsinya!
Aamiin.