Ternyata Begini Rasanya
Tidur nyenyak.
Saya menyadarinya karena sudah lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak.
Saking enaknya tidur, saya sampai harus dibangunkan kakak laki-laki saya pada sahur hari ketiga. Benar. Ramadhan lagi. Bagi saya, tidak ada ramadhan paling berkesan setelah ramadhan masa kecil. Kesakralan bulan puasa yang saya dapatkan waktu kecil dulu jarang saya rasakan di ramadhan tahun-tahun berikutnya. Entah karena iman saya makin berkurang atau saya merasa sepi tidak bisa lagi merasakan momen-momen seru bersama teman-teman masa kecil.
Ramadhan dewasa ini, setiap kali saya menjumpainya, saya jadi mengingat orang-orang tua di sekitar saya. Bersyukur masih diberi kesempatan. Hal itu terjadi juga pada saya. Ya, manusia memang menua.
Ah, saya memang sering terdistraksi. Kembali lagi perihal tidur nyenyak.
Tidur nyenyak bukan hanya soal bangun kesiangan sampai-sampai harus dibangunkan orang lain. Saya sering kesiangan tapi tidak pernah merasa nyenyak.
Hari ini saya terbangun dari tidur nyenyak karena saya tidak sadar berapa lama saya tertidur, saya tidak menyadari bahwa saya sedang bermimpi, saya tidak terbangun tengah malam, dan saya tidak menghitung waktu untuk bangun.
Murni. Saya murni tidur dan mengistirahatkan pikiran.
Sejak SMA, saya selalu terbangun sekitar tengah malam sampai di sepertiga malam. Ada beberapa waktu yang saya manfaatkan untuk salat tahajud, tapi di waktu yang lain itu menyiksa. Waktu saat saya ingin kembali tidur tetapi sulit terpenuhi. Sampai akhirnya saya kurang tidur karena terjaga sampai pagi.
Saya juga lupa kapan dimulainya. Tapi, saya sering sadar dan menyadari saat saya bermimpi bahwa itu mimpi. Lucid dream sekali dua kali mengalaminya mungkin terdengar seru. Saya bisa mengendalikan bagaimana peristiwa bisa terjadi dalam mimpi saya sendiri. Berperan penuh tanpa khawatir apa-apa, karena saya sadar itu semua cuma mimpi.
Semua itu pada akhirnya melelahkan. Sekali pun saya tidur, rasanya tidak benar-benar tidur, karena anggap saja saya hidup di dua dimensi. Siang di dimensi nyata, malam dimensi mimpi. Itulah mengapa bangun-bangun akan terasa lebih lelah.
Hari ini, semua itu sedang pergi. Saya terlelap super sekali, bahkan saya tidak lagi sadar kalau saya sedang bermimpi, sedetik pun saya tidak terbangun.
Ternyata begini rasanya tidur nyenyak.