Cara Lain Menyebut Kesepian
Ketika saya sedih dan tidak bisa ke mana-mana, saya banyak mengurung diri. Masuk ke kamar dan menutup segala yang bisa diintip.
Menutup mata dan telinga.
Dalam kegelapan itu, saya keluarkan segala keluh dan luruh. Setiap air mata yang kemudian keluar, saya membayangkan sedang ada di tepi danau malam yang tenang. Jauh dari keramaian. Dari apa dan siapa pun yang tengah menunggu saya di luar pintu.
Perasaan sedih adalah akhir bagi saya. Karena dalam kesedihan itu tidak ada lagi perasaan untuk melawan. Saya tidak cukup berambisi untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
Saya pernah melakukannya. Tapi tidak didengar. Saya pernah mencoba melakukannya, dan yang terjadi setelahnya saya dilarang melakukannya.
Momen-momen itu tertanam dan terjadi berulang. Sampai ketika saya berhenti melakukannya, saya menemukan kedamaian.
Merasakan diri sendiri dalam kesedihan bisa menjadi keheningan yang menyenangkan.
Rasanya seperti malam di tepi danau yang dingin dengan pantulan cahaya bulan yang sendirian.
Duduk berlama-lama di sana.
Rasa yang sama saat saya ingin berteriak tetapi keheningan di kepala saya terlalu dalam. Dalam kesendirian itu saya bertanya dengan menyedihkan.
Bisakah saya menjadi orang yang ingin diketahui seseorang?