Jiwa dan Materialisme; Bagian Mendengar Ferdy
Terhitung tiga bulan sejak perjalanan di Pronojiwo. Pada selang waktu itu, saya terus dibayangi oleh pertanyaan Ferdy, di tempat parkir– terkapar di bebatuan sebelum menuju pulang.
Momen saat ia membelokkan arah percakapan tanpa navigasi, menyinggung konsep jiwa dalam agama dan Tan Malaka, membikin saya tercekat, cengo, dan tampak bodoh.
Kekosongan yang panjang itu, diakhirinya dengan memberi saya saran, untuk membaca Madilog terlebih dahulu.
Suaranya tak membuat saya tersinggung, tapi yang menyakiti saya adalah suara hati sendiri setelahnya. Seandainya saya tahu lebih banyak– atau paling tidak tahu sedikit, mungkin percakapan itu tak akan berakhir dengan kecanggungan.
Maka sesampainya di rumah, saya mengambil Madilog yang tertumpuk di meja sejak terakhir dibeli. Melompati halaman, membuka bagian khusus; jiwa, mengais makna materialisme, dan lebih dalam melihat bagaimana materialisme memahami jiwa.
Membacanya sekali, dua kali, sekian kali. Sekali tak paham, kedua kali tertegun, sekian kali muak. Ternyata sekalipun membacanya, pemahaman tak ubah datang seketika.
Soal pertanyaannya, saya yakin ia tak bermaksud menanyai pemahaman saya secara teknikal. Seperti tes-tes uraian yang telah ditetapkan kunci jawabannya. Karena, jawaban semacam itu bisa ia temukan di beragam buku yang dibacanya.
Saya merasa, ia hanya ingin tahu tentang bagaimana saya memandang sikap materialisme dalam jiwa, mengingat saya beragama.
Barangkali, ia ingin menguji bagaimana bentuk argumen saya saat memilih menyetujui atau menyanggah konsep itu. Atau barangkali, ia hanya butuh diyakinkan oleh beban warisan agama yang dianutnya sejak lahir.
Dan justru karena itu, menjawab pertanyaannya menjadi jauh lebih sulit.
Butuh waktu lama untuk saya menuliskannya. Setiap ada celah, pikiran saya kembali memperdebatkan apa yang saya yakini lewat hati. Berdiri cukup lama, agak keras kepala.
"Jalan yang saya pilih ini, benar kok." Lalu saat mulai menjalaninya, pemaparan logis Tan Malaka menyambut tiap pijakan kaki saya, menjadi bisikan panjang, "Yakin?" saya terus abai sambil menggerutu, "Itu cuma teori, tak ada yang lebih kuat dari kata hati sendiri."
Semakin saya berjalan dan mendengar isi hati sendiri. Semakin saya tahu, kalau yang saya lakukan selama ini cuma bersifat penyangkalan. Sedang yang sebenarnya, hati saya tahu betapa masuk akalnya dan betapa sejalannya pemikiran dialektis Tan Malaka dengan alam logika manusia.
Lalu, bagaimana saya harus menerima keberadaan jiwa pada konsep teologi metafisika– yang tak bisa diuji secara empiris?
Penafian: saya bukan ahli jiwa, logika, apalagi ahli agama. Tolong lihat saya sebagai pembaca amatir, teman setara, dan manusia seutuhnya yang masih sama belajar soal hidup yang tak pernah saya kehendaki ini.
Satu cara yang bisa saya lakukan untuk menjawab pertanyaannya adalah dengan menggunakan pemahaman non-teknikal. Pemahaman yang lahir dari proses sosial, pengalaman, pembelajaran, emosional, hingga kesadaran diri.
Sebuah jawaban yang mungkin tak berdampak besar dan terdengar seperti omong kosong belaka.
Dasar Pemikiran (Sebagai Konteks)
Tan Malaka: Lensa materialisme– jiwa adalah produk dari proses material/fisik (aktivitas otak atau pengaruh lingkungan). Bersifat fana. Menyatu dengan alam saat tubuh mati karena adanya proses biologis (kodrat kimia).
Islam: Metafisika– jiwa (ruh) adalah esensi Ilahi yang terpisah dari tubuh. Bersifat abadi. Bertahan setelah kematian, menghadapi kehidupan akhirat.
Cukup lama saya mengimani dasar pemikiran di atas dengan pandangan subjektif. Alih-alih memahami keduanya, saya sibuk mencari argumentasi untuk melawan pandangan Tan Malaka.
Jauh di dasar hati, mungkin keyakinan saya agak tersinggung untuk menerima kenyataan. Lalu saya ingat, sebagai Muslim yang baik perlulah menggunakan akal, merenungkan segala sesuatu untuk berpikir kritis sebagaimana anjuran Allah lewat Al-Qur'an.
Kesadaran itu sejalan dengan pandangan Tan Malaka. Bahwa berpikir kritis bukan berarti menentang atau meragukan, tetapi lebih jauh sebagai upaya untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi.
Setelah proses penerimaan yang lapang itu, sampai pada keberanian untuk saya berbagi pendapat dan jawaban ini kepada Ferdy.
Pertama, saya setuju dan mengakui rasionalitas Tan Malaka tentang jiwa dari lensa materialisme. Bahwa ia melihat jiwa sebagai sesuatu yang bisa dijelaskan oleh sains. Ini masuk akal, mengingat bagaimana otak bisa memengaruhi cara berpikir dan berperilaku.
Saat Islam memberi gambaran jiwa (ruh) sebagai entitas spiritual dengan tujuan akhir berupa akhirat, Tan Malaka memberi gambaran jiwa (kesadaran) sebagai alat untuk perjuangan material, seperti revolusi sosial atau kemerdekaan.
Perbedaan itu mencerminkan kontras antara visi spiritual Islam dan fokus materialis Tan Malaka pada perubahan nyata.
Pada titik ini, saya mengagumi cara berpikir Tan Malaka. Lewat Madilog, ia membawa perubahan nyata yang tampak mudah diraih. Membentuk kesadaran jiwa manusia dengan pendidikan yang berbasis logika dan realitas material, bukan dogma agama atau tradisi.
Kedua, tentang keberadaan jiwa (ruh). Saya percaya dan meyakini, yang tetap hidup setelah kematian adalah ruh. Ruh adalah unsur immateri yang memberikan kehidupan pada tubuh.
Dalam Islam, tubuh (jasad), jiwa (nafs), dan ruh memiliki keterikatan yang kuat. Ruh sebagai napas kehidupan yang ditiupkan dalam tubuh (jasad) manusia sebagai wadah fisik, sementara jiwa (nafs) merujuk pada aspek psikis atau kesadaran individu dalam berpikir dan berkehendak (sejalan dengan pandangan materialisme dialektis jiwa– bersifat dinamis.).
Meskipun jiwa sering dikaitkan dengan aktivitas mental dan emosional selama hidup, baik ruh atau jiwa, keduanya adalah unsur immateri. Sifat immateri inilah yang memungkinkan jiwa/ruh tetap ada setelah kematian tubuh fisik dan menghadapi proses hisab di akhirat. Wallahualam.
Sekali pun keduanya memiliki orientasi yang berbeda, baik jiwa dalam Tan Malaka yang berfokus pada perjuangan duniawi, dan jiwa dalam Islam yang berfokus pada tujuan akhirat. Menurut saya, keduanya lahir untuk mencapai tujuan yang sama, ialah perubahan yang lebih baik bagi umat manusia.
Kalau nanti Ferdy bertanya lagi– di antara banyak agama, mengapa saya memilih Islam? Saya ingin menyarankan hal yang sama untuknya, agar kembali membaca Madilog.
Lihat, Fer. Setiap kita yang lahir dan berpikir, cara termudah melihat segalanya adalah dengan membaca.
"Manusia dan jiwa itu cuma hasil dari kemajuan alam, tetapi betul pula kemajuan bahwa alam itu pada satu tingkat bisa juga dibentuk oleh manusia dengan jiwanya." (Madilog, hlm. 523).
Selanjutnya, apa kiranya maksud dari semua ini?
Jika tujuan besar jiwa diharapkan membawa perubahan yang lebih baik bagi kehidupan manusia, seperti apa wujud kehidupan yang baik itu?
Sejujurnya, saya tidak pernah secara benar tahu arti kehidupan yang baik itu, sampai beberapa waktu ke belakang. Ini akan menjadi kilas balik, sebuah kisah klise yang membosankan.
Pernahkah terbayang oleh Ferdy, bahwa doa-doa yang saya panjatkan di sepertiga malam adalah sebuah permohonan kematian pada Tuhan?
Bagi saya, doa itu adalah upaya paling aman untuk mengakhiri hidup tanpa rasa sakit. Tak punya nyali lagi, menyakiti secara fisik.
Sekarang, tiap kali mengingatnya saya tertawa dan agak cemas. Terpikir, bagaimana kalau doa-doa yang saya panjatkan dulu, akhirnya didengar Tuhan?
Bagaimana jika ketekunan bocah SMA yang padat kegiatan, mengambil wudu pada dini hari, hanya untuk bersujud dan memohon harapan yang tidak-tidak, akhirnya diwujudkan?
Apakah kejanggalan ini muncul karena saya miskin? Rasanya tak sebegitu miskinnya, sampai saya merasa sakit oleh itu.
Keluarga saya baik, begitu pun sahabat-sahabat saya. Urusan sekolah saya lancar, belajar dengan baik dan banyak tertawa.
Tapi perasaan yang aneh itu sewaktu-waktu muncul. Perasaan terasing yang membuat saya ingin pergi jauh.
Acap kali saya bilang "kepingin mbambung" pada teman-teman, berakhir jadi bahan tawa dan teguran. Atau saat saya menunjukkan gejala aneh pada orang rumah, diajaknya saya ke orang pintar (tentu saja, sia-sia).
Lalu, entah dari mana dan bagaimana terjadi, saya mendengar derak pintu terbuka.
Ternyata selain pesimis, agaknya saya orang yang sentris. Cuma memikirkan diri sendiri, dan menuntut arti, mengapa saya dilahirkan? Saya terlalu lemah untuk hidup utuh tanpa makna apa-apa.
Manusia itu ada banyak, sekali pun tak ada saya di dunia, tak akan mengubah banyak hal. Orang tua saya masih punya anak lain, teman-teman bisa cari yang baru, begitu pun kekasih saya nanti.
Kalau pun saya berharga bagi orang lain, apa lagi yang bisa dilakukan kalau saya mati? Mungkin mereka bersedih sebentar, tapi hidup akan berjalan sebagaimana biasa. Tiba waktu mereka akan lupa.
Jadi, apa inti kilas balik ini?
Hanya saja, saya menyadari. Di alam raya ini, pasti ada banyak orang yang berpikir seperti saya. Bahwa wujud bahagia tak bisa diraih hanya oleh hal-hal material semacam itu. (Yakin bilang begini, meski tak kaya-kaya amat).
Jika semua yang saya lakukan untuk hidup, hanya berdasar perhitungan atau timbal balik, maka kekosongan itu akan terus ada. Tuntutan demi tuntutan tentang hidup, tak ada habisnya.
Seperti apa wujud kehidupan yang baik itu?
Mungkin, wujudnya berbentuk keseimbangan.
Keseimbangan untuk berani menerima dan memperjuangkan.
Berani menerima bahwa mungkin hidup saya memang tak ada artinya, dan berani memperjuangkan bagaimana saya akan mengarang bebas maknanya.
Berani menerima bahwa jiwa saya akan pergi ke tempat yang semestinya, dan berani memperjuangkan bagaimana saya akan bertanggung jawab nantinya.
...
Saya lega, mengetahui tak ada yang sia-sia pada akhir percakapan canggung sore itu. Sebab, dengan kecanggungan dan jeda berpikir itu, saya punya waktu untuk berhenti– melihat di jalan mana saya tengah berdiri.
Melihat Ferdy berupaya dan banyak berpikir tentang Tuhan dan agamanya, adalah suatu penghormatan untuknya. Meski tak tahu ujung yang ditemuinya, ia tak berhenti mencari. Kontras nyata bagi saya yang pada saat itu memilih menyerah.
Serta akhirnya, berterima kasih padanya– perjalanan itu tumbuh sebagaimana makna "perjalanan" yang saya yakini. Bahwa, perjalanan adalah proses pencarian dan gerakan melukis makna.
Pada tiap tempat dan waktu yang kami lewati, barangkali harapan dan makna sedang tumbuh lewat jejak tanah, gemuruh air terjun, langit semeru, capung merah hati, pertikaian Mas Aldo, atau kaki goyah Ferdy.
Juga barangkali, kepercayaan dan jawaban bisa muncul pada momen di mana– pintu hati seseorang akan terbuka tanpa alasan.
Lain kali baiknya saya tak usah mendengar Ferdy, bikin tipes saja.***
PS. Surat ini ditulis, setelah saya mendapat wejangan dari Septian. Katanya, pertemuan tidak selalu soal fisik. Jadi anggap saja, catatan ini sebagai sapaan singkat untuk perjalanan yang lebih panjang. Sampai jumpa akhir tahun! Panjang umur, Kamerad.
26111. Baru mengetahui bahwa yang saya alami dulu adalah bentuk alienasi diri.