Posts

Jiwa dan Materialisme; Bagian Mendengar Ferdy

Terhitung tiga bulan sejak perjalanan di Pronojiwo. Pada selang waktu itu, saya terus dibayangi oleh pertanyaan Ferdy, di tempat parkir– terkapar di bebatuan sebelum menuju pulang. Momen saat ia membelokkan arah percakapan tanpa navigasi, menyinggung konsep jiwa dalam agama dan Tan Malaka, membikin saya tercekat, cengo, dan tampak bodoh. Kekosongan yang panjang itu, diakhirinya dengan memberi saya saran, untuk membaca Madilog terlebih dahulu. Suaranya tak membuat saya tersinggung, tapi yang menyakiti saya adalah suara hati sendiri setelahnya. Seandainya saya tahu lebih banyak– atau paling tidak tahu sedikit, mungkin percakapan itu tak akan berakhir dengan kecanggungan. Maka sesampainya di rumah, saya mengambil Madilog yang tertumpuk di meja sejak terakhir dibeli. Melompati halaman, membuka bagian khusus; jiwa, mengais makna materialisme, dan lebih dalam melihat bagaimana materialisme memahami jiwa. Membacanya sekali, dua kali, sekian kali. Sekali tak paham, kedua kali tertegun, sekian ...

Cara Lain Menyebut Kesepian

Ketika saya sedih dan tidak bisa ke mana-mana, saya banyak mengurung diri. Masuk ke kamar dan menutup segala yang bisa diintip. Menutup mata dan telinga. Dalam kegelapan itu, saya keluarkan segala keluh dan luruh. Setiap air mata yang kemudian keluar, saya membayangkan sedang ada di tepi danau malam yang tenang. Jauh dari keramaian. Dari apa dan siapa pun yang tengah menunggu saya di luar pintu. Perasaan sedih adalah akhir bagi saya. Karena dalam kesedihan itu tidak ada lagi perasaan untuk melawan. Saya tidak cukup berambisi untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Saya pernah melakukannya. Tapi tidak didengar. Saya pernah mencoba melakukannya, dan yang terjadi setelahnya saya dilarang melakukannya. Momen-momen itu tertanam dan terjadi berulang. Sampai ketika saya berhenti melakukannya, saya menemukan kedamaian. Merasakan diri sendiri dalam kesedihan bisa menjadi keheningan yang menyenangkan. Rasanya seperti malam di tepi danau yang dingin dengan pantulan cahaya bulan yang sendiri...

Ternyata Begini Rasanya

Tidur nyenyak. Saya menyadarinya karena sudah lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak. Saking enaknya tidur, saya sampai harus dibangunkan kakak laki-laki saya pada sahur hari ketiga. Benar. Ramadhan lagi. Bagi saya, tidak ada ramadhan paling berkesan setelah ramadhan masa kecil. Kesakralan bulan puasa yang saya dapatkan waktu kecil dulu jarang saya rasakan di ramadhan tahun-tahun berikutnya. Entah karena iman saya makin berkurang atau saya merasa sepi tidak bisa lagi merasakan momen-momen seru bersama teman-teman masa kecil. Ramadhan dewasa ini, setiap kali saya menjumpainya, saya jadi mengingat orang-orang tua di sekitar saya. Bersyukur masih diberi kesempatan. Hal itu terjadi juga pada saya. Ya, manusia memang menua. Ah, saya memang sering terdistraksi. Kembali lagi perihal tidur nyenyak. Tidur nyenyak bukan hanya soal bangun kesiangan sampai-sampai harus dibangunkan orang lain. Saya sering kesiangan tapi tidak pernah merasa nyenyak. Hari ini saya terbangun dari tidur nyenyak karena ...

Menjadi Mahasiswa Akhir

Skripsimu sudah sampai mana? Jenis pertanyaan yang tidak bisa lepas dari menjadi mahasiswa akhir. Memiliki gelar mahasiswa akhir jauh lebih menyeramkan daripada menjadi mahasiswa baru. Rasanya sudah cukup, tidak perlu saya ceritakan derita-derita yang akan dan harus ditanggung oleh mahasiswa akhir, karena pada akhirnya setiap mahasiswa akan merasakannya sendiri-sendiri. Susahnya mau lulus dan kehidupan setelahnya. Hehe. Tulisan ini adalah bukti pelarian kalau saya sedang enggan mengerjakan skripsi (lagi). Jelas saya tahu, setelah ini akan ada penyesalan berulang. Misalnya Februari lalu, harusnya saya melanjutkan mengerjakan revisi skripsi selama liburan. Nyatanya, malah luntang-lantung mengerjakan sesuatu yang lain. Usaha-usaha dagang, riwa-riwi ke rumah sakit, selesai itu menonton drama atau film. Begitu terus, sampai dagangan jarang dibeli konsumen, akhirnya istirahat. Jeda berjualan. Berteman dengan ICU sambil menunggu update -an episode baru, drama baru, dan main sosial media. Tida...

Tangisan Akhir Januari

Woah, hari ini saya banyak menangis. Gara-garanya sederhana, pagi-pagi sekali saat saya mencoba menyelesaikan masakan untuk berdagang, saya keluar sebentar dari dapur, sok ngide menyambut matahari. Sudah cerah semenjak petang subuh tadi. Sejujurnya saya memang suka melihat langit, saya selalu merasa kecil tiap melihat langit. Karenanya, membuat saya sadar kalau saya bukan sesuatu yang perlu dianggap lebih. Kecil sekali. Bukan apa-apa. Jadi hidup santai aja, karena saya bukan pusat alam semesta. Melihat langit itu seperti menyadarkan saya untuk beralih sebentar dari kelelahan duniawi. Wkwk, begitulah intinya. Nah, setelah melihat langit yang luas juga cerah hari itu, jiwa melankolis saya keluar dong. Saya memutar lagu BCL - Harta Berharga, sambil kembali masuk dapur menguleni adonan martabak. Saya suka mendengarkan musik dan ikut menyanyi. Jadilah saya menyanyi bersama suara Kak Unge, kadang-kadang menyahuti dengan nada yang saya usahakan pecah suara. Biar tambah bagus, bagus untuk saya...

Hidup Setengah Waras

Desember yang lalu, saya mendapat kabar baik. Psikiater saya bilang, "Saya nggak kasih resep lagi ya, sudah minum obatnya," katanya sambil sepasang matanya meyakinkan saya, "Kamu sudah bisa tanpa mereka." Mendengar itu saya mengangguk antusias. Dokter mungkin tidak tahu betapa perkataan itu membuat saya terharu dan menangis dalam hati. Klise, tapi memang begitu adanya. Kenangan dan jalan hidup saya belakangan lantas muncul di ruangan itu, menjadi kilas balik yang perlu saya hargai. Sebab saya tahu bagaimana sulitnya hidup setengah waras. Sampai saat ini. Hidup setengah waras adalah menjadi bagian dari manusia-manusia seperti saya yang sadar betul bahwa dirinya tak waras dan harus hidup dalam kehidupan yang ideal. Barangkali disebutnya standar kehidupan. Jadinya, minoritas seperti saya dinilai egois, antagonis, dan definisi lain-lain dengan konotasi negatif. Dulu, jelas saya akan sedih mendengar asumsi mereka yang semacam itu. Protes habis-habisan di pikiran sendiri....